Portal Berita Indonesia

Macam-macam Perjanjian Internasional Yang Diikuti Oleh Indonesia?

Macam-macam Perjanjian Internasional Yang Diikuti Oleh Indonesia? Diulas oleh pada . Artikel berikut membahas tentang Macam-macam Perjanjian Internasional Yang Diikuti Oleh Indonesia?

Q: A. – Konvensi PBB mengenai Hukum Laut (United Nations Convention on the Law of the Sea/UNCLOS)- (International Convention for the Prevention of Pollution from Ships)- Konperensi Internasional mengenai Keamanan Kapal Tanker dan Pencegahan Pencemaran (International Conference on Tanker Safety and Pollution Prevention). dan masih banyak lagi polemik….palang merah atau bulan sabit……..ato bintang daud…?…pantes aja [...]

Rating: 4

Q:

A. – Konvensi PBB mengenai Hukum Laut (United Nations Convention on the Law of the Sea/UNCLOS)
- (International Convention for the Prevention of Pollution from Ships)
- Konperensi Internasional mengenai Keamanan Kapal Tanker dan Pencegahan Pencemaran (International Conference on Tanker Safety and Pollution Prevention).

dan masih banyak lagi

polemik….palang merah atau bulan sabit……..ato bintang daud…?…pantes aja teroris suburrr…..?
Q: kikikikikikikik

politik identitas…..yg menguras energi bangsa gw………sampe kapan dah…………..!

ini tulisan salah satu muslimin yg ane hormatin, selain gus dur, gus mus, buya maarif….:

"Palang Merah" disepakati dipakai sbg lambang perlindungan yg netral dalam perang; ini di tahun 1864 di perjanjian Jenewa. Lambang ini mirip bendera Swiss yang warnanya terbalik. Bendera Swiss: palang putih atas dasar merah.

Kalaupun ada asal-usul "Kristen" di situ, perlu dicatat: lambang, bahasa, adat, Eropa mengalami "sekularisasi" sejak berabad-abad. Orang Eropa kini tak akan ingat sifat "Kristen" dalam lambang Palang Merah, bendera Swiss, Inggris, Swedia dst.

Tapi kerajaan Usmani dari Turki dan negara-negara Arab menolak memakainya. Mereka pakai "bulan sabit merah". Yang juga menolak Palang Merah adalah: Israel. Yang dipakai di sini, oleh Perhimpunan Magen David, adalah bintang Daud. Akbatnya Palang Merah Internasional tak mengakui Perhimpunan Israel itu sebagai anggota.

Timbul masalah: bagaimana lambang itu bisa menandai kenetralan dalam konflik, dan tak jadi sasaran ketika bergerak menolong korban. Beberapa tahun yang lalu ada pertemuan di Jenewa untuk mengusulkan lambang baru bagi semua: kristal merah. Tapi belum berhasil.

Arti sebuah lambang bisa dilembagakan (misalnya dengan perjanjian, seperti Palang Merah). Tapi pada dasarnya arti itu bisa macam-macam. Lambang bintang merah bisa berarti: 1. merk bir. 2. gerakan komunis (sejak 1917). 3. lambang Partai Sosialis Indonesia. Lambang bulan sabit bisa berarti: "Islam", seperti dalam bendera Turki. Tapi di bendera Singapura, berarti: "negeri yang baru muncul."

Ironis: Palang Merah yang semula jadi simbol netralitas, malah jadi obyek persengketaan, dengan semangat identitas agama. Tidakkah yang terkesan kini: agama-agama justru penyebab konflik, dan Palang Merah yang selama ini meredakan konflik, ikut dibakar?

Sumber:
Goenawan Mohamad

————-

ane pertanyakan hal yg sama dgn beliau………

samberrrrrrrrrr……………….

kikikikikikik

A. Lambang bukan sekedar identitas. Karena di dalamnya tersimpan ideologi. Tapi lambang tetaplah menjadi lambang/simbol. Tak ada yang namanya perang lambang/simbol.

Yang ada perang ideologi.

Agaknya goenawan mohamad perlu paham akan hal itu.

tiga macam perjanjian internasional yang bersifat umum (multilateral)?
Q:

A. Perjanjian Internasional Multilateral, yaitu Perjanjian Internasional yang peserta atau pihak-pihak yang terikat di dalam perjanjian itu lebih dari dua subjek hukum internasional. Sifat kaidah hukum yang dilahirkan perjanjian multilateral bisa bersifat khusus dan ada pula yang bersifat umum, bergantung pada corak perjanjian multilateral itu sendiri. Corak perjanjian multilateral yang bersifat khusus adalah tertutup, mengatur hal-hal yang berkenaan dengan masalah yang khusus menyangkut kepentingan pihak-pihak yang mengadakan atau yang terikat dalam perjanjian tersebut. Maka dari segi sifatnya yang khusus tersebut, perjanjian multilateral sesungguhnya sama dengan perjanjian bilateral, yang membedakan hanya dari segi jumlah pesertanya semata. Sedangkan perjanjian multilateral yang bersifat umum, memiliki corak terbuka. Maksudnya, isi atau pokok masalah yang diatur dalam perjanjian itu tidak saja bersangkut-paut dengan kepentingan para pihak atau subjek hukum internasional yang ikut serta dalam merumuskan naskah perjanjian tersebut, tetapi juga kepentingan dari pihak lain atau pihak ketiga. Dalam konteks negara, pihak lain atau pihak ketiga ini mungkin bisa menyangkut seluruh negara di dunia, bisa sebagian negara, bahkan bisa jadi hanya beberapa negara saja. Dalam kenyatannya, perjanjian-perjanjian multilateral semacam itu memang membuka diri bagi pihak ketiga untuk ikut serta sebagai pihak di dalam perjanjian tersebut. Oleh karenanya, perjanjian multilateral yang terbuka ini cenderung berkembang menjadi kaidah hukum internasional yang berlaku secara umum atau universal.

Untuk contohnya cari di Google

Sejak kapan perjanjian internasional berlaku?
Q:

A. Mulai berlakunya suatu perjanjian internasional lazimnya ditentukan sendiri oleh para pihak, kapan perjanjian tersebut mulai berlaku sacara efektif. Dalam praktik masyarakat internasional dewasa ini, mulai berlakunya suatu perjanjian telah dituangkan dalam Final Provisions (ketentuan penutup) dari perjanjian tersebut. Meskipun demikian, tentu saja juga banyak variasi waktu atau saat mulai
berlakunyacara suatu perjanjian internasional, sesuai dengan bentuk dan macam perjanjian internasional itu masing-masing.

Powered by Yahoo! Answers