Portal Berita Indonesia

Lemak Baik Jadi Jahat Karena Makan Gorengan Yang Salah

Lemak Baik Jadi Jahat Karena Makan Gorengan Yang Salah Diulas oleh inews pada . Artikel berikut membahas tentang Lemak Baik Jadi Jahat Karena Makan Gorengan Yang Salah

Lemak, meski cenderung dihindari, sebenarnya mengandung nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Hanya saja, perlu dikenali apakah lemak tersebut golongan yang baik atau yang jahat untuk tubuh. Lemak baik seperti pufa (lemak tak jenuh ikatan ganda, atau lemak esensial) bisa menjadi lemak jenuh atau safa (lemak jahat). Asupan pufa bisa dibutuhkan tubuh untuk pembentukan sel. Namun, lemak [...]

Rating: 4

Lemak, meski cenderung dihindari, sebenarnya mengandung nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Hanya saja, perlu dikenali apakah lemak tersebut golongan yang baik atau yang jahat untuk tubuh. Lemak baik seperti pufa (lemak tak jenuh ikatan ganda, atau lemak esensial) bisa menjadi lemak jenuh atau safa (lemak jahat).

Asupan pufa bisa dibutuhkan tubuh untuk pembentukan sel. Namun, lemak baik ini bisa menjadi jahat jika cara memasaknya keliru, yakni dipanaskan dengan suhu tinggi.

Dr Ratna Djuwita Hatma, MPH, dari Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) mengatakan, cara masak yang keliru bisa mengurangi komposisi asupan pufa dan menambah asupan safa.

“Manfaat pufa hilang saat makanan digoreng. Sebaiknya kukus atau rebus makanan agar tidak menambah komposisi safa dalam makanan,” papar dr Ratna pada media workshop “Pentingnya Peran Lemak Esensial bagi Tumbuh Kembang Anak” yang diselenggarakan Alchemy beberapa waktu lalu.

Dr Ratna menunjukkan hasil survei yang mengambil sampel etnis Minangkabau, Jawa, Sunda, dan Bugis bahwa komposisi asupan lemak dari pola makan mereka sudah seimbang. Hanya saja, survei yang dilakukan terhadap perempuan di atas 18 tahun ini menunjukkan bahwa asupan pufa masih kurang optimal.

Makanan mengandung lemak esensial yang paling sering dikonsumsi empat etnis ini adalah tempe, tahu, ikan, dan telur. Sedangkan kacang-kacangan serta buah dan sayuran yang mengandung pufa masih minim jumlah konsumsinya.

“Kurangnya asupan pufa menggambarkan kurangnya asam lemak esensial. Hal ini merupakan faktor risiko terhadap penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung koroner, stroke, hiperkolesterol, dan hipertensi,” ujar dr Ratna memaparkan hasil penelitiannya.220sateSapo