Portal Berita Indonesia

Krisis Yang Terjadi Pada Masa Orde Baru?

Krisis Yang Terjadi Pada Masa Orde Baru? Diulas oleh pada . Artikel berikut membahas tentang Krisis Yang Terjadi Pada Masa Orde Baru?

Q: please bgt! tugas pentingpertanyaan: krisis yang terjadi pada masa orde barutolong dibantu A. krisis moneter, Krisis yang melanda bangsa Indonesia, menjadi awal terpuruknya sebuah negara dengan kekayaan alam yang melimpah ini. Dari awal 1998, sejak era orde baru mulai terlihat kebusukannya Indonesia terus mengalami kemerosotan, terutama dalam bidang ekonomi. Nilai tukar semakin melemah, inflasi [...]

Rating: 4

Q: please bgt! tugas penting
pertanyaan: krisis yang terjadi pada masa orde baru
tolong dibantu :D

A. krisis moneter, Krisis yang melanda bangsa Indonesia, menjadi awal terpuruknya sebuah negara dengan kekayaan alam yang melimpah ini. Dari awal 1998, sejak era orde baru mulai terlihat kebusukannya Indonesia terus mengalami kemerosotan, terutama dalam bidang ekonomi. Nilai tukar semakin melemah, inflasi tak terkendali, juga pertumbuhan ekonomi yang kurang berkembang di negara ini. Pada Juni 1997, Indonesia terlihat jauh dari krisis. Tidak seperti Thailand, Indonesia memiliki inflasi yang rendah, perdagangan surplus lebih dari 900 juta dolar, persediaan mata uang luar yang besar, lebih dari 20 milyar dolar, dan sektor bank yang baik. Tapi banyak perusahaan Indonesia banyak meminjam dolar AS. Di tahun berikut, ketika rupiah menguat terhadap dolar, praktisi ini telah bekerja baik untuk perusahaan tersebut â level efektifitas hutang mereka dan biaya finansial telah berkurang pada saat harga mata uang lokal meningkat. Pada Juli, Thailand megambangkan baht, Otoritas Moneter Indonesia melebarkan jalur perdagangan dari 8 persen ke 12 persen. Rupiah mulai terserang kuat di Agustus. Pada 14 Agustus 1997, pertukaran floating teratur ditukar dengan pertukaran floating-bebas. Rupiah jatuh lebih dalam. IMF datang dengan paket bantuan 23 milyar dolar, tapi rupiah jatuh lebih dalam lagi karena ketakutan dari hutang perusahaan, penjualan rupiah, permintaan dolar yang kuat. Rupiah dan Bursa Saham Jakarta menyentuh titik terendah pada bulan September. Moodyâs menurunkan hutang jangka panjang Indonesia menjadi âjunk bondâ. Meskipun krisis rupiah dimulai pada Juli dan Agustus, krisis ini menguat pada November ketika efek dari devaluasi di musim panas muncul di neraca perusahaan. Perusahaan yang meminjam dalam dolar harus menghadapi biaya yang lebih besar yang disebabkan oleh penurunan rupiah, dan banyak yang bereaksi dengan membeli dolar, yaitu: menjual rupiah, menurunkan harga rupiah lebih jauh lagi. Inflasi rupiah dan peningkatan besar harga bahan makanan menimbulkan kekacauan di negara ini. Pada Februari 1998, Presiden Suharto memecat Gubernur Bank Indonesiaa, tapi ini tidak cukup. Suharto dipaksa mundur pada pertengahan 1998 dan B.J. Habibie menjadi presidenSampai 1996, Asia menarik hampir setengah dari aliran modal negara berkembang. Tetapi, Thailand, Indonesia dan Korea Selatan memiliki âcurrent account deficitâ dan perawatan kecepatan pertukaran pegged menyemangati peminjaman luar dan menyebabkan ke keterbukaan yang berlebihan dari resiko pertukaran valuta asing dalam sektor finansial dan perusahaan. Pelaku ekonomi telah memikirkan akibat Daratan Tiongkok pada ekonomi nyata sebagai faktor penyumbang krisis. RRT telah memulai kompetisi secara efektif dengan eksportir Asia lainnya terutaman pada 1990-an setelah penerapan reform orientas-eksport. Yang paling penting, mata uang Thailand dan Indonesia adalah berhubungan erat dengan dollar, yang naik nilainya pada 1990-an. Importir Barat mencari pemroduksi yang lebih murah dan menemukannya di Tiongkok yang biayanya rendah dibanding dollar. Krisis Asia dimulai pada pertengahan 1997 dan mempengaruhi mata uang, pasar bursa dan harga aset beberapa ekonomi Asia Tenggara. Dimulai dari kejadian di Amerika Selatan, investor Barat kehilangan kepercayaan dalam keamanan di Asia Timur dan memulai menarik uangnya, menimbulkan efek bola salju. Banyak pelaku ekonomi, termasuk Joseph Stiglitz dan Jeffrey Sachs, telah meremehkan peran ekonomi nyata dalam krisis dibanding dengan pasar finansial yang diakibatkan kecepatan krisis. Kecepatan krisis ini telah membuat Sachs dan lainnya untuk membandingkan dengan pelarian bank klasik yang disebabkan oleh shock resiko yang tiba-tiba. Sach menunjuk ke kebijakan keuangan dan fiskal yang ketat yang diterapkan oleh pemerintah pada saat krisis dimulai, sedangkan Frederic Mishkin menunjuk ke peranan informasi asimetrik dalam pasar finansial yang menuju ke âmental herdâ diantara investor yang memperbesar resiko yang relatif kecil dalam ekonomi nyata. Krisis ini telah menimbulkan keinginan dari pelaksana ekonomi perilaku tertarik di psikologi pasar.
BI – Redenominasi Rupiah?
Q: Bank Indonesia menggulirkan rencana pengkajian penerapan redenominasi rupiah. Redenominasi adalah pemotongan nilai mata uang menjadi lebih kecil tanpa mengubah nilai tukarnya. Misalnya : Uang Rp 10.000 dipotong menjadi Rp 10 tetapi tidak mengurangi nilai tukarnya.

Isu redenominasi rupiah ini sudah pernah dilontarkan oleh bank sentral sejak awal Mei 2010. Menurut Kepala Biro Riset Ekonomi BI Iskandar Simorangkir ada beberapa persyaratan utama bagi suatu negara yang harus dipenuhi sebelum mengambil langkah redenominasi.
Pertama, adalah ekspektasi inflasi di negara tersebut harus berada di kisaran rendah dan pergerakannya stabil.
Kedua, stabilitas perekonomian terjaga dan ada jaminan terhadap stabilitas harga.
Ketiga, adalah kesiapan masyarakat.

Nah, bagaimana tanggapan Anda dengan kebijakan ekonomi yang diambil oleh Pemerintah kita? Apakah kita sudah siap Indonesia akan me-Redenominasi Rupiah ?

A. Sisi Positif Redenominasi:
1. Uang kita secara nominal menjadi lebih sejajar dengan mata uang negara tetangga sehingga mempermudah penyatuan ekonomi seperti halnya dengan UNI EROPA misalnya.
2. Secara gengsi naiklah, sehingga pas belanja atau nukar valuta asing di luar negeri gak bawa uang yang nolnya banyak (kayak dari Zimbabwe aja). Dulu saya pernah kenal dengan orang Turki di Depok yang agak rendah diri karena memegang uang Turki yang nominalnya 100juta!

Sisi Negatif:
1. Masyarakat kita masih menyimpan trauma akibat pemotongan uang di jaman ORLA dulu. Ini bisa menimbulkan kepanikan.
2. Kita tidak terbiasa memakai pecahan kecil, sehingga tidak ada sense nilai mata uang, dan ini bisa membuat pihak penjual menaikkan harga tanpa disadari masyarakat. Misalnya harga daging dalam mata uang baru naik Rp10, yang kelihatannya sedikit, padahal dalam mata uang lama itu berarti naik 10ribu!

Sisi Netral:
1. Redenominasi kali ini sebenarnya tidak mengubah nilai uang kita sama sekali. Sama saja dengan memakai uang kita sekarang, tapi dicoret 3 nolnya. Uang kita secara nilai tidak berkurang sama sekali, berbeda dengan pemotongan uang, yang membuat uang kita berkurang setengah.
2. Dari segi isi dompet sebenarnya juga sama saja. Uang kertas akan tetap ada untuk pecahan besar: Rp100, Rp50, Rp20, Rp10, Rp5, Rp2, dan Rp1 (setara 100rb, 50rb, 20rb, 10rb, 5rb, 2rb dan 1rb), dan uang logam Rp1, 50sen, 20sen dan 10sen (setara logam 1rb, 500, 200 dan 100). Jadi sama saja. Isi dompet tidak menjadi lebih tebal atau lebih tipis.
3. Jepang adalah negara dengan uang yang nominalnya besar juga. 1 dolar setara 80an Yen. Yen juga keluar uang sampai pecahan 10ribu yen (kurang lebih setara 1juta rupiah) Jadi nilai mata uang gak pengaruh terhadap kinerja ekonomi negara.

Mengingat orang Indonesia mudah digoyang isu, kupikir mudaratnya lebih banyak dari manfaatnya. Belum lagi kalau ditunggangi sama kepentingan politik. Jadi ribet deh.

Kupikir kita belum siap menghadapi redenominasi. Lagi pula manfaatnya tidak signifikan dan tidak ada kondisi memaksa yang harus membuat kita melaksanakan kebijakan ini.

dugaan anda…untuk pemerintah…?
Q: dugaan anda dengan kebijakan menurunkan harga BBM adalah politik belaka, yang dilatar belakangi SBY dan JK akan mencalonkan diri sebagai presiden indonesia dalam pilpres mendatang?

A. "Mbah Maridjan sekalipun yang jadi presiden, maka penurunan harga BBM itu sudah menjadi keniscayaan. Gag perlu kecerdasan seorang presiden untuk menetapkan penurunan harga BBM, karena fakta menunjukkan harga minyak dunia sudah turun hingga 50%, menjadi rata-rata di bawah US$70 per barel dalam dua bulan terakhir. Harga minyak dunia itu pula yang menjadi alasan mengapa pemerintah menaikkan harga BBM hingga 27,5% pada Juni lalu. Saat itu harga minyak dunia terus bergerak di atas US$110 per barel.
Coba kita perhatikan, saat menaikkan harga BBM pemerintah cepat sekali bereaksi dan memberlakukan secara mendadak, tapi ketika menurunkan pemerintah berputar2 dan memberlakukannya sebulan kemudian walau diumumkan sekarang. Logikanya jika harga minyak mentah dunia naik lagi maka penurunan harga BBM dalam negeri yg tak seberapa itu tidak pernah akan terwujud, malahan bisa jadi harga BBM yg lebih tinggi yg ditetapkan pada masyarakat.
Jk negara lain lebih mengutamakan kepentingan rakyatnya, indonesia lebih mementingkan keamanan finansial negara, walaupun harus membuat rakyatnya sengsara dan mengalami hidup yg susah, pemerintah tutup mata dan tak mau peduli. Contoh kasarnya saja mengenai harga BBM ini,setelah didesak2 oleh berbagai pihak baru pemerintah mau menurunkan harga BBM Rp. 500 perliter.
Menurut gw Rp. 500 itu tidak akan memberikan pengaruh apa2 pada kehidupan masyarakat jika dibandingkan dgn kenaikan harga Rp. 1500, apalagi harga minyak tanah yg jadi konsumsi rakyat miskin tidak diturunkan satu rupiah pun. Jadi menurut gw lebih baik dibatalkan saja penurunan harga BBM yg gag memberi dampak positif pada kehidupan rakyat miskin, sebab penurunan harga BBM itu adalah sikap politis sby utk mendapatkan sedikit apresiasi dari rakyat. Apalagi alasannya jika tidak utk mendapatkan perolehan suara yg lebih tinggi baginya dalam pemilu presiden 2009 nanti."
bagaimana cara jual beli saham?
Q: saya ada rencana untuk membuka bisnis baru yaitu jual beli saham. Tapi sy masih blank tentang apa dan bagaimana jual beli saham itu. ktnya bisnis jual beli saham ini resiko kerugiannya sangat kecil. Mohon penjelasannya dari om2, tante2, saudara/i semua. trims

A. Pada dasarnya membeli saham harus lewat sekuritas atau broker yang tercatat di BEI, dengan mengikuti persyaratan administrasi dari sekuritas tersebut, coba tanya langsung di tiap sekuritas, sebab masing2 memiliki kebijakan yang berbeda

tambahan info

Saham (stock) merupakan salah satu instrumen pasar keuangan yang paling popular. Menerbitkan saham merupakan salah satu pilihan perusahaan ketika memutuskan untuk pendanaan perusahaan. Pada sisi yang lain, saham merupakan instrument investasi yang banyak dipilih para investor karena saham mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik.

Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan menyertakan modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas asset perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Pada dasarnya, ada dua keuntungan yang diperoleh investor dengan membeli atau memiliki saham

1. Dividen

Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan dan berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS. Jika seorang pemodal ingin mendapatkan dividen, maka pemodal tersebut harus memegang saham tersebut dalam kurun waktu yang relatif lama yaitu hingga kepemilikan saham tersebut berada dalam periode dimana diakui sebagai pemegang saham yang berhak mendapatkan dividen.
Dividen yang dibagikan perusahaan dapat berupa dividen tunai â artinya kepada setiap pemegang saham diberikan dividen berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap saham – atau dapat pula berupa dividen saham yang berarti kepada setiap pemegang saham diberikan dividen sejumlah saham sehingga jumlah saham yang dimiliki seorang pemodal akan bertambah dengan adanya pembagian dividen saham tersebut.

2. Capital Gain

Capital Gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Capital gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder. Misalnya Investor membeli saham ABC dengan harga per saham Rp 3.000 kemudian menjualnya dengan harga Rp 3.500 per saham yang berarti pemodal tersebut mendapatkan capital gain sebesar Rp 500 untuk setiap saham yang dijualnya.

Sebagai instrument investasi, saham memiliki risiko, antara lain:

1. Capital Loss

Merupakan kebalikan dari Capital Gain, yaitu suatu kondisi dimana investor menjual saham lebih rendah dari harga beli. Misalnya saham PT. XYZ yang di beli dengan harga Rp 2.000,- per saham, kemudian harga saham tersebut terus mengalami penurunan hingga mencapai Rp 1.400,- per saham.
Karena takut harga saham tersebut akan terus turun, investor menjual pada harga Rp 1.400,- tersebut sehingga mengalami kerugian sebesar Rp 600,- per saham.

2. Risiko Likuidasi

Perusahaan yang sahamnya dimiliki, dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan, atau perusahaan tersebut dibubarkan. Dalam hal ini hak klaim dari pemegang saham mendapat prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan perusahaan). Jika masih terdapat sisa dari hasil penjualan kekayaan perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi secara proporsional kepada seluruh pemegang saham.
Namun jika tidak terdapat sisa kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan memperoleh hasil dari likuidasi tersebut. Kondisi ini merupakan risiko yang terberat dari pemegang saham. Untuk itu seorang pemegang saham dituntut untuk secara terus menerus mengikuti perkembangan perusahaan.

Di pasar sekunder atau dalam aktivitas perdagangan saham sehari-hari, harga-harga saham mengalami fluktuasi baik berupa kenaikan maupun penurunan. Pembentukan harga saham terjadi karena adanya permintaan dan penawaran atas saham tersebut. Dengan kata lain harga saham terbentuk oleh supply dan demand atas saham tersebut. Supply dan demand tersebut terjadi karena adanya banyak faktor, baik yang sifatnya spesifik atas saham tersebut (kinerja perusahaan dan industri dimana perusahaan tersebut bergerak) maupun faktor yang sifatnya makro seperti tingkat suku bunga, inflasi, nilai tukar dan faktor-faktor non ekonomi seperti kondisi sosial dan politik, dan faktor lainnya.

Powered by Yahoo! Answers