Portal Berita Indonesia

Kedatangan Jepang Ke Nanjing,China Saat Perang Dunia II?

Kedatangan Jepang Ke Nanjing,China Saat Perang Dunia II? Diulas oleh pada . Artikel berikut membahas tentang Kedatangan Jepang Ke Nanjing,China Saat Perang Dunia II?

Q: Langsung saja ya.. Apa pendapat anda mengenai Kekejaman Jepang dalam memperlakukan kota jajahannya Nanjing..Saya diberi tugas u/ membuat artikel mengenai jepang saat perang dunia ke II.tapi bingung mau buat kayak gmn.. Mohon bantuan & saran. Thx before~ A. Pada tahun 1937-1938 di Cina telah terjadi sebuah tragedi yaitu The Nanking Mascare atau kita kenal [...]

Rating: 4

Q: Langsung saja ya..

Apa pendapat anda mengenai Kekejaman Jepang dalam memperlakukan kota jajahannya Nanjing..
Saya diberi tugas u/ membuat artikel mengenai jepang saat perang dunia ke II.
tapi bingung mau buat kayak gmn..

Mohon bantuan & saran. Thx before~

A. Pada tahun 1937-1938 di Cina telah terjadi sebuah tragedi yaitu The Nanking Mascare atau kita kenal dengan Rape of Nanking. Tragedi kemanusiaan tersebut merupakan kejahatan perang yang dilakukan oleh militer Jepang pada masa Perang Dunia II di Nanking, Cina (baca: Nanjing) dan merupakan salah satu insiden yang paling terkenal pada masa invasi Jepang ke negara-negara jajahannya.
Tentara Imperial Jepang mulai melakukan invasi di Cina pada tahun 1931-1945, dan masuk ke Nanking pada tanggal 13 Desember 1937, namun rentang waktu dari pembantaian yang terjadi di Nangking tidak dapat diketahui secara pasti, walaupun ada beberapa saksi yang menyebutkan bahwa peristiwa tersebut berlangsung selama enam minggu hingga awal Februari 1938. Setelah Insiden Mukden tahun 1931, Jepang memulai invasinya di Manchuria, Cina. Beberapa perlawanan sempat berlangsung, seperti: pertempuran Shanghai (1932), pertempuran di Tembok Cina (1933), dan telah terjadi beberapa kesepakatan antara Cina dan Jepang yang mengatur mengenai penghapusan militer di bagian utara Cina hingga Manchuria.
Namun, kekalahan Cina dalam menghadapi Jepang juga diperparah oleh konflik yang terjadi di dalam negeri Cina sendiri, yaitu antara Chinese Nationalist People’s Party (KMT) dengan Chinese Communist Party (CCP) yang terlibat dalam perang sipil, membuat China tidak berdaya melawan agresi Jepang. Konflik tersebut untuk sementara berakhir pada tahun 1937, diikuti dengan insiden Xiâan; ketika KMT dan CCP bekerjasama membentuk front persatuan untuk melawan Jepang dan dua kelompok yang berbeda ideologi tersebut akhirnya mulai membentuk pertahanan melawan kekejaman militer Jepang. Rekonsiliasi tersebut dilakukan keduanya mengingat bahwa setiap pemimpin di Cina, baik itu dari KMT maupun CCP memiliki ambisi untuk membawa Cina menjadi sebuah Middle Kingdom di kawasan Asia.
Cina sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia tentu saja memiliki jumlah tentara yang cukup banyak, tapi kuantitas saja tidak cukup untuk menentukan kemenangan Cina. Pada umumnya tentara Cina tidak mendapatkan pelatihan yang baik untuk menghadapi serangan eksternal dan dari segi kualitas peralatan militernya tidak secanggih military capability yang dimiliki Jepang.
Pada waktu itu, Nanking menjadi âzona amanâ (safety zone), yang banyak dihuni oleh orang-orang ekspatriat; yang datang ke Cina untuk melakukan hubungan perdagangan maupun menyebarkan ajaran agama. Nanking Safety Zone dibentuk oleh John Rabe seorang ekspatriat dari Jerman yang tinggal di Cina ketika agresi Jepang dimulai. Karena hubungan Jepang-Jerman pada masa Perang Dunia II merupakan aliansi militer dalam menghadapi Sekutu, akhirnya Pemerintah Jepang setuju untuk tidak menyerang bagian dari kota yang bukan merupakan basis-basis militer strategis.
Namun, pada kenyataannya tentara Jepang tidak mematuhi aturan yang telah disepakati oleh Nanking Safety Zone Committee. Menurut perjanjian tersebut tidak ada satu peluru pun yang boleh memasuki kota Nanking tapi tentara Jepang malah memicu kekacauan dengan mengeluarkan tembakan secara membabi buta. Hal tersebut dilakukan oleh tentara Jepang karena mereka memiliki keyakinan bahwa mereka harus menguasai seluruh wilayah Cina,
Silahkan bantu saya memahami bahasa inggris ini ?
Q: My name is Mahir Abdal-Razzaaq El and I am a Cherokee Blackfoot American Indian who is Muslim. I am known as Eagle Sun Walker. I serve as a Pipe Carrier Warrior for the Northeastern Band of Cherokee Indians in New York City.

There are other Muslims in our group. For the most part, not many people are aware of the Native American contact with Islam that began over one thousand years ago by some of the early Muslim travelers who visited us. Some of these Muslim travelers ended up living among our people.

For most Muslims and non-Muslims of today, this type of information is unknown and has never been mentioned in any of the history books. There are many documents, treaties, legislation and resolutions that were passed between 1600s and 1800s that show that Muslims were in fact here and were very active in the comunities in which they lived. Treaties such as Peace and Friendship that was signed on the Delaware River in the year 1787 bear the signatures of Abdel-Khak and Muhammad Ibn Abdullah. This treaty details our continued right to exist as a community in the areas of commerce, maritime shipping, current form of government at that time which was in accordance with Islam. According to a federal court case from the Continental Congress, we help put the breath of life in to the newly framed constitution. All of the documents are presently in the National Archives as well as the Library of Congress.

If you have access to records in the state of South Carolina, read the Moors Sundry Act of 1790. In a future article, Inshallah, I will go in to more details about the various tribes, their languages; in which some are influenced by Arabic, Persian, Hebrew words. Almost all of the tribes vocabulary include the word Allah. The traditional dress code for Indian women includes the kimah and long dresses. For men, standard fare is turbans and long tops that come down to the knees. If you were to look at any of the old books on Cherokee clothing up until the time of 1832, you will see the men wearing turbans and the women wearing long head coverings. The last Cherokee chief who had a Muslim name was Ramadhan Ibn Wati of the Cherokees in 1866.

Cities across the United States and Canada bear names that are of Indian and Islamic derivation. Have you ever wondered what the name Tallahassee means? It means that He Allah will deliver you sometime in the future.

diambil dari http://islamworld.net/docs/rim.html

in the 12th century Al-Idrisi reported in Nuzhat Al-Mushtaq Fi Ikhtiraq Al-Afaq (Excursion of the Longing One in Crossing Horizons), that a group of eight Muslim sailors from North Africa sailed west of Lisbon. After sailing west for more than 31 days, they landed on what must have been an island in the Caribbean. The intrepid explorers were initially imprisoned by Indians but were later released when a translator appeared who spoke Arabic [2]
1310 CE (709 AH) Sultan Abu Bakari of the Mandinka kingdom of Mali sent two different fleets of ships, totalling 2,400 ships, sailing west from Africa. The fleets never returned to Africa.

dari http://muslimwiki.com/mw/index.php/Native_Americans_and_Islam

dan bandingkan antara
http://www.traveltoveracruz.com/loop%20xalapa.htm
dengan
http://www.illusionsgallery.com/Moorish%20Chief.html

Apakah artikel tersebut bercerita tentang sejarah Islam di Amerika Kuno ?
Apakah kedua foto tersebut berhubungan ?

Demikian

A. Nama saya Mahir Abdal-Razzaaq El dan saya adalah seorang Blackfoot Cherokee Indian Amerika yang muslim. Aku dikenal sebagai Eagle Sun Walker. Aku berfungsi sebagai Carrier Pipa Warrior untuk Northeastern Band of Cherokee Indian di New York City.

Ada umat Islam lain dalam kelompok kami. Untuk sebagian besar, tidak banyak orang yang sadar akan Native American kontak dengan Islam yang dimulai lebih dari seribu tahun yang lalu oleh beberapa muslim awal pelancong yang mengunjungi kami. Beberapa pelancong Muslim akhirnya hidup di antara orang-orang kami.

Bagi sebagian besar Muslim dan non-Muslim hari ini, jenis informasi ini tidak diketahui dan tidak pernah disebutkan dalam salah satu buku-buku sejarah. Ada banyak dokumen, perjanjian, undang-undang dan resolusi-resolusi yang telah berlalu antara tahun 1600-an dan 1800-an yang menunjukkan bahwa sebenarnya umat Islam di sini dan sangat aktif dalam comunities di mana mereka hidup. Perjanjian seperti Perdamaian dan Persahabatan yang ditandatangani di Sungai Delaware pada tahun 1787 menanggung tanda tangan Abdel-Khak dan Muhammad bin Abdullah. Rincian perjanjian ini terus kami hak untuk hidup sebagai sebuah komunitas dalam bidang perdagangan, maritim perkapalan, bentuk pemerintahan saat ini pada waktu yang sesuai dengan Islam. Menurut kasus pengadilan federal dari Kongres Kontinental, kami membantu meletakkan nafas kehidupan dalam bingkai yang baru konstitusi. Semua dokumen yang sekarang di Arsip Nasional serta Perpustakaan Kongres.

Jika Anda memiliki akses ke catatan di negara bagian South Carolina, membaca Moor UU Sundry 1790. Dalam artikel yang akan datang, Insya Allah, aku akan masuk untuk lebih rinci tentang berbagai suku, bahasa mereka; di mana sebagian dipengaruhi oleh bahasa Arab, Persia, Ibrani kata-kata. Hampir semua suku kata kosa kata termasuk Allah. Kode pakaian tradisional perempuan India mencakup kimah dan gaun panjang. Untuk pria, tarif standar adalah turban dan atasan panjang yang datang ke lutut. Jika Anda melihat pada salah satu dari buku-buku tua di pakaian cherokee sampai waktu 1832, Anda akan melihat orang-orang mengenakan turban dan para wanita mengenakan penutup kepala yang panjang. Cherokee terakhir kepala yang memiliki nama muslim Ibnu Ramadhan Wati dari Cherokee pada tahun 1866.

Kota-kota di seluruh Amerika Serikat dan Kanada menanggung nama yang berasal dari India dan derivasi Islam. Pernahkah Anda bertanya-tanya apa nama Tallahassee berarti? Ini berarti bahwa Dia Allah akan memberikan kapan-kapan di masa depan.

———————————————————————————————————————————————-

di abad ke-12 Al-Idrisi dilaporkan dalam Nuzhatul Mushtaq Ikhtiraq Fi Al-Afaq (Excursion dari Kerinduan Satu di Penyeberangan Horizons), bahwa kelompok delapan pelaut Muslim dari Afrika Utara berlayar barat Lisbon. Setelah berlayar ke barat selama lebih dari 31 hari, mereka mendarat pada apa yang pasti sebuah pulau di Karibia. Para penjelajah pemberani awalnya dipenjarakan oleh orang Indian, tetapi kemudian dilepaskan ketika seorang penerjemah muncul yang berbicara bahasa Arab [2]
1310 CE (709 H) Sultan Abu Bakari dari kerajaan Mandinka Mali mengirim dua armada kapal yang berbeda, yang berjumlah 2.400 kapal, berlayar ke barat dari Afrika. The armada tak pernah kembali ke Afrika.

gw gak ngerti soal islam. jadi cuman bisa translate.

Powered by Yahoo! Answers