Portal Berita Indonesia

Bolehkah Niat Aqiqoh Bersamaan Dengan Kurban. Tolong Kasih Dasarnya Boleh Tidaknya?

Bolehkah Niat Aqiqoh Bersamaan Dengan Kurban. Tolong Kasih Dasarnya Boleh Tidaknya? Diulas oleh pada . Artikel berikut membahas tentang Bolehkah Niat Aqiqoh Bersamaan Dengan Kurban. Tolong Kasih Dasarnya Boleh Tidaknya?

Q: maksudnya dari dua niat yang berbeda, yaitu niat aqiqoh dan niat qurban dijadikan satu ( satu binatang digunakan untuk aqiqoh dan qurban? bagaimana hukumnya? boleh tidaknya tolong kasih dasar dan diambil dari kitab apa? A. Bolehkah menggabungkan aqiqah dan kurban? Ini masalah khilafiyah. Ulama-ulama mazhab al-Syafie membenarkan aqiqah dilakukan bersamaan dengan kurban seperti yang [...]

Rating: 5

Q: maksudnya dari dua niat yang berbeda, yaitu niat aqiqoh dan niat qurban dijadikan satu ( satu binatang digunakan untuk aqiqoh dan qurban? bagaimana hukumnya? boleh tidaknya tolong kasih dasar dan diambil dari kitab apa?

A. Bolehkah menggabungkan aqiqah dan kurban?

Ini masalah khilafiyah. Ulama-ulama mazhab al-Syafie membenarkan aqiqah dilakukan bersamaan dengan kurban seperti yang dikatakan oleh al-Imam al-Nawawi. Sedangkan Ulama-ulama mazhab Hambali dan Maliki tidak membolehkan dengan alasan aqiqah tidak sama hukumnya dengan kurban. Hal itu berdasarkan beberapa pendapat di bawah ini:

[1] Mereka melihat aqiqah adalah sebuah penebusan untuk anak yang dilahirkan. Oleh sebab itu seekor binatang yang disembelih untuk aqiqah hanya untuk seorang anak saja.

[2] Menurut Imam Ibn Hazm dlm Al-Muhalla (7/523): âOrang yg melaksanakan aqiqah dgn kambing yang cacat tetap sah aqiqahnya tetapi tidak dalam ibadah kurban.â

[3] Menurut Imam As-Shaâani dlm subulus salam (4/1428): âSyarat kambing untuk aqiqah tidak sama dengan hewan kurban. Adapun orang yang menyamakan pensyaratannya, mereka hanya berdalilkan dengan qiyas.â

Juga berbeda dengan kurban, jumhur ulama berpendapat sebaiknya daging aqiqah dimasak dahulu sebelum dibagikan kepada orang lain.

Jalan keluar dari khilaf menurut Dr. Abdullah al-Faqih adalah dengan cara mengorbankan 3 kambing. Salah satu darinya berumur paling kurang 6 bulan untuk dijadikan kurban. Sedangkan dua kambing lainnya untuk dijadikan aqiqah bagi anak laki-laki.

2. Bolehkan memberi daging kurban kepada non-Muslim?

Dibenarkan untuk memberikan daging kurban kepada non-Muslim entah itu mereka tetangga kita, atau dari keluarga kita, bahkan dari kalangan orang miskin. Syaratnya adalah mereka tidak beperang menetang orang Islam.

3. Bolehkah memberikan daging kurban sebagai bayaran kepada penyembelih kurban?

Ada disebagian tempat penyembelihan kurban, si penyembelih dan yang memotong-motong daging secara otomatis menyisihkan sebagian daging yang mereka potong tanpa keizinan dari yang siempunya daging. Mereka menganggap itu sudah menjadi upah mereka. Karena ini sudah menjadi kebiasaan, si pemilik daging dengan terpaksa menyisihkan sebagian daging kurbannya kepada si penyembelih kurban. Bolehkah hal ini dilakukan:

Jawabannya adalah tidak boleh. Tidak dibenarkan membayar orang yang menyembelih dan memotong-motong daging tersebut dengan menggunakan daging kurban. Ulama berpendapat bahwa memberikan daging kurban sebagai upah akan merusakkan ibadah kurban tersebut. Oleh karena itu upah hendaklah dibayar dari hartanya yang lain seperti uangnya sendiri.

Sebaliknya pernah terjadi suatu kejadian pada saat memotong daging kurban di sebuah kota di Malaysia. Kebetulan yang menjadi pemilik daging kurban adalah orang-orang Arab (mungkin pelajar). Mereka mengerti bahwa tidak boleh memberi upah dengan daging kurban. Yang tidak eloknya adalah, setelah mendapatkan daging kurban yang telah dipotong-potong itu, mereka langsung meninggalkan si penyembelih dan si pemotong yang melongo karena tidak diberikan upah sedikitpun. Patutkah sikap dipemilik daging yang langsung cabut tersebut?

Tidak patut sama sekali, karena dibolehkan untuk memberi sedekah kepada penyembelih asalkan bukan diniatkan sebagai upah. Tapi harus diyakinkan terlebih dahulu, penyembelih itu dari kalangan yang memang berhak mendapat sedekah. Kalau mereka tidak layak menerima sedekah, maka kita bagikan daging kurban itu kepada mereka sebagai hadiah.

4. Bagaimana pembagian daging aqiqah?

Aqiqah disunatkan dengan kambing bagi setiap anak. Lebih baik lagi dua kambing bagi anak laki-laki jika mampu. Mazhab Syafie, Hanafi dan Hanbali setuju dengan pendapat yang membolehkan aqiqah dengan unta, lembu dan kambing. Pandangan itu juga turut disetujui oleh dua pandangan dari mazhab Maliki.

Walaupun mereka dengan jenis binatang yang boleh dikurbankan, mereka berbeda pendapat mengenai pembagian aqiqah tersebut:

[1] Mazhab Syafie: pembagian aqiqah sama dengan pembagian qurban yaitu 1 kambing, 1/7 unta atau 1/7 lembu.

[2] Mazhab Maliki dan Hanbali: daging aqiqah adalah seluruh satu lembu atau seluruh satu unta.

5. Daging kurban diberikan kepada siapa saja?

Perbedaan pandangan tentang hokum daging kurban sebagai berikut :

[1] Mazhab Hanafi memandang sunah daging hewan kurban itu dibagi tiga: sepertiga sunah dimakan oleh pemiliknya; sepertiga dihadiahkan untuk teman-teman akrab, sekalipun mereka orang kaya; sepertiga lagi disedekahkan kepada orang miskin. Pendapatnya ini didasarkan kepada firman Allah swt : âKemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.â (QS.22: 36). Dan hadis Nabi saw yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi saw membagi kurbannya atas tiga bagian: sepertiga untuk keluargana, sepertiga untuk tetangganya yang miskin, dan sepertiga untuk peminta-minta (HR. Hafiz Abu Musa al-Isfahani).

[2] Mazhab Hanbali, memandang sunah daging hewan kurban itu dibagi tiga: sepertiga sunah dimakan oleh pemiliknya; sepertiga dihadiahkan untuk teman-teman akrab, sekalipun mereka orang kaya; sepertiga l

Powered by Yahoo! Answers