Portal Berita Indonesia

Apa Itu Politik Poros Dan Apa Hubungannya Dengan PKI?

Apa Itu Politik Poros Dan Apa Hubungannya Dengan PKI? Diulas oleh pada . Artikel berikut membahas tentang Apa Itu Politik Poros Dan Apa Hubungannya Dengan PKI?

Q: A. "Mungkin poros yang loe maksud berhubungan dengan PKI adalah Poros JakartaâPeking, dan ini tidak bisa dilepaskan dari Bung Karno. Karena di tangan bekas Presiden RI pertama inilah nama poros ini lahir. Pada 1964 gerakan itu lahir mewarnai peta politik nasional sebagai langkah lanjutan dari pengambilan keputusan keluar dari anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Jakarta-Peking [...]

Rating: 4

Q:

A. "Mungkin poros yang loe maksud berhubungan dengan PKI adalah Poros JakartaâPeking, dan ini tidak bisa dilepaskan dari Bung Karno. Karena di tangan bekas Presiden RI pertama inilah nama poros ini lahir. Pada 1964 gerakan itu lahir mewarnai peta politik nasional sebagai langkah lanjutan dari pengambilan keputusan keluar dari anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Jakarta-Peking adalah sebuah aliansi politik. Aliansi itu dibangun untuk menandingi kekuataan barat yang dikomandoi Amerika Serikat (AS).Dipilihnya Pekingâibu kota Cina pada masa itu, sebagai bentuk pilihan politik Bung Karno ketika masih berkuasa. Tujuan pembentukan aliansi itu adalah manifestasi ideologi yang dianut oleh Bung Karno. Ketika itu, Bung Karno mengeluarkan paham Nasakom (nasionalis, agama dan komunis). Selain itu, sebagai wujud perlawanan Bung Karno terhadap praktik-praktik neokolim yang dilakukan oleh negara barat terhadap negara berkembang. Kebijakan Bung Karno ini menjadikan kekuatan kapitalisme tidak bisa lagi dengan leluasa mencengkram Indonesia.
Washington pun mulai gusar ketika Bung Karno mengeluarkan paham Nasakom dengan membuka poros Jakarta-Peking dan menjalin kerja sama dengan Uni Soviet. Ide pembangunan hubungan politik JakartaâPeking adalah proyek mercusuar Bung Karno. Dengan begitu, masyarakat disuguhi cerita Indonesia melawan barat.Masyarakat seringkali disuguhi cerita bahwa bersama JakartaâPeking, maka Indonesia akan keluar dari keterpurukan ekonomi. Sayang, cerita politik itu tidak selalu berakhir happy ending. Karena pada awal kelahirannya banyak masyarakat yang sudah menduga kerjasama itu hanya untuk memenuhi hasrat politik Bung Karno. Masyarakat mulai gundah. Film-film Hollywood yang sedang merajela diganti dengan film-film buatan negeri tirai bambu. Drama, pentas seni lebih banyak diwarnai budaya Tiongkok."

Powered by Yahoo! Answers