Portal Berita Indonesia

Apa Dampak Globalisasi Di Bidang Ekonomi, Politik, Budaya, Sosial, Dan Pendidikan Bagi Indonesia?

Apa Dampak Globalisasi Di Bidang Ekonomi, Politik, Budaya, Sosial, Dan Pendidikan Bagi Indonesia? Diulas oleh pada . Artikel berikut membahas tentang Apa Dampak Globalisasi Di Bidang Ekonomi, Politik, Budaya, Sosial, Dan Pendidikan Bagi Indonesia?

Q: A. Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Teknologi:Perputaran arus informasi yg kian dinamis yg bisa melancarkan bisnis dalam skala internasional. Misalnya pengiriman data² lewat internet. dll. Bidang budaya:Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi [...]

Rating: 5

Q:

A. Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah.

Teknologi:
Perputaran arus informasi yg kian dinamis yg bisa melancarkan bisnis dalam skala internasional. Misalnya pengiriman data² lewat internet. dll.

Bidang budaya:
Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang.

Dampak globalisasi pendidikan untuk Indonesia:
Sekolah dan perguruan tinggi negara lain bisa mendirikan lembaga pendidikan di negara Indonesia. Sebagian besar siswa Indonesia bisa bersekolah di negara lain.
Persaingan lapangan pekerjaan lulusan sekolah/perguruan tinggi bukan saja dengan sebangsa tetapi juga dengan bangsa lain yang masuk ke Indonesia.
Standard sekolah/perguruan tinggi harus mengacu ke standard internasional, dan bahasa Inggris menjadi sangat penting sebagai bahasa komunikasi, supaya bisa bersaing.

Jelaskan keterkaitan globalisasi dan perkembangan TIK?
Q:

A. Sebetulnya aku belum nyambung dengan pengertian TIK.
Apakah TIK adalah Teknologi Informasi dan Komunikasi ?
bila iya, maka akan coba kujawab keterkaitan antara globalisasi dan TIK itu.

Globalisasi adalah proses berjalannya sistem global (globe = bumi = dunia). Gagasan atau ide dan pemahaman tentang globalisasi pada waktu itu (era 80-an) dikemukakan oleh Mikail Gorbachov (Presiden Uni Soviet, waktu itu) dengan sebutan "glasnot" (globalisasi) dan "perestroika" (transparansi).

Nah, dengan bergulirnya faham globalisasi dan keterbukaan/transparansi itulah, Uni Soviet yang sangat gagah dan kuat akhirnya "bubar" dan masing-masing negara anggota uni, berdiri sendiri-sendiri seperti yang kita lihat sekarang ini.
Globalisasi menyangkut semua bidang kehidupan, seperti : ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan.

Okelah, kembali ke globalisasi dan TIK.

Tekonologi informasi dan komunikasi juga bisa berkembang karena terjadinya globalisasi itu. Sebaliknya, globalisasi akan makin berkembang ke seluruh penjuru bumi, berkat kemajuan TIK.
Dengan demikian, antara globalisasi dan TIK itu bersifat simbiosis mutualistis (saling melengkapi).

Contoh :
Globalisasi bidang ekonomi, seperti perusahaan HP tertentu di Eropa bisa membuka cabang di Indonesia; dan HP-nya dijual "murah" sehingga rakyat Indonesia mulai orang kota sampai dengan para petani di kampung, bisa berkomunikasi melalui HP (phone, sms, internetan).

TIK memungkinkan pak tani di kampung sana…. bisa kapan saja berbicara dengan anaknya yang sedang merantau di Hong Kong. Pak tani sekarang, sudah tidak hanya ahli pegang cangkul, akan tetapi mereka sebagian sudah mahir ber-sms-an dengan anak gadisnya di Arab Saudi.

Hal itu dimungkinkan karena berkembangnya TIK dan transparansi pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Peranan pemerintah, misalnya dalam hal memberi perizinan produksi alat komunikasi (spt HP, Komputer), perizinan penggunaan jalur microwave, GPRS dsb.

Dapatkah menjelaskan filsafat postmodern?
Q: Dapatkah menjelaskan inti dari filsafat postmodern secara singkat, tetapi jelas ?

A. ‘Postmodernism’ yang biasa disingkat dengan sebutan ‘Posmo’, suatu istilah
keren yang ramai dibicarakan disegala bidang khususnya dilingkungan
filsafat. Istilah postmodernism sudah banyak digunakan di berbagai
lingkungan, seperti lingkungan musik, seni rupa, fiksi, film, drama,
arsitektur, kritik sastra, antrpologi, sosiologi, geografi, dan filsafat dan
secara umum orang-orang biasa menyebut sesuatu yang agak ‘tidak biasa’
sebagai posmo.

Istilah ini sebenarnya sudah digunakan dalam bidang seni sedini tahun 1930
oleh Frederico de Onis untuk menunjukkan reaksi yang muncul dalam
modernisme, dan oleh Arnold Toynbee dalam bukunya ‘A Study of History’
(1947) disebutkan bahwa istilah itu merupakan kategori yang menjelaskan
siklus sejarah baru yang dimulai sejak tahun 1875 dengan berakhirnya
dominasi Barat, surutnya individualisme, kapitalisme dan kristianitas, serta
kebangkitan kekuatan budaya non-Barat, Tetapi secara umum istilah ini
mencuat kembali secara populer dalam dasawarsa-dasawarsa terakhir abad
ke-XX. Apakah yang disebut sebagai Postmodernism itu?

POST-MODERNISM

Postmodernism biasa dibedakan dari postmodernitas. Postmodernism (di
Indonesiakan menjadi posmodernisme atau disingkat posmo) menunjuk pada
kritik-kritik filosofis atas gambaran dunia (world view), epistemoligi dan
ideologi-ideologi modern. Yang kedua menunjuk pada situasi dan tata sosial
produk teknologi informasi, globalisasi, fragmentasi gaya hidup,
konsumerisme yang berlebihan, deregulasi pasar uang dan sarana publik,
usangnya negara bangsa dan penggalian kembali inspirasi-inspirasi tradisi.

Dari batasan di atas kita dapat melihat bahwa kedua istilah itu berkisar
pada kata kunci ‘modern’ sebagai suatu tahap penting dalam sejarah dunia.
Postmodernism dapat dilihat dari tiga akar katanya yaitu ‘Post’, ‘Modern’,
dan ‘Ism’.

Kita mengetahui bahwa ‘Modern’ menunjuk pada suatu masa dalam sejarah dunia
dimana trio ‘renaissance, rasionalisme, dan pencerahan’ telah menghasilkan
suatu masyarakat rasional dan hidup dalam suasana industri yang ditunjukkan
dengan kemajuan pesat disegala bidang dan lapangan hidup. Kata ‘Post’
menunjuk pada situasi sesudah (pasca) masa modern baik berupa tahap yang
lebih lanjut dari masa modern itu sendiri ataupun sebagai tahap berupa
kritik atau kemunduran yang diakibatkan oleh masa modern itu sendiri. Sedang
kata ‘Ism’ atau biasa dikenal sebagai faham atau pandangan, kemudian
menunjuk bahwa suasana sesudah modern itu ternyata sudah menjadi suatu
ideologi baru yang dibedakan dengan ideologi modern sebelumnya atau
‘modernisme.’

Dari arti kata postmodernism itu kita dapat melihat bahwa kata itu menunjuk
pada ideologi baru yang tumbuh pada masa ini yang dibedakan dengan ideologi
modern sebelumnya tetapi masih mempunyai kaitan erat dengan ideologi modern
tersebut.

KLASIK, MODERN & POSMOS

Secara umum kita dapat melihat bahwa sekitar masa modern yang ditandai
dengan bangunnya kesadaran manusia akan dirinya dan alam (renaissance)
setelah melepaskan diri dari masa klasik sebelumnya dan abad-abad
pertengahan, manusia memasuki masa modern dimana akal manusia (rasio)
menjadi penting dan dipentingkan dan dari rasio manusia ini telah dihasilkan
kemajuan ilmu pengetahuan dalam segala bidang yang ditandai dengan
produk-produknya berupa teknologi dan industri.

Kita dapat melihat bahwa masa modern ini memang mendatangkan kemajuan bagi
manusia dengan bertumpuknya produk-produk pelayanan yang meringankan dan
memberi kenikmatan dalam kehidupan manusia, tetapi sekaligus masa modern ini
menghasilkan beberapa ideologi yang ternyata kemudian dirasakan sebagai
telah mengurangi nilai-nilai bagus pada masa klasik sebelumnya. Rasionalisme
dimana akal manusia diperdewakan dan Materialisme adalah dua diantara
beberapa ideologi yang dirasakan akibatnya dikemudian hari.

Tindak lanjut atau reaksi terhadap dampak masa modern inilah yang kemudian
menjadi ideologi baru postmodernism. Tindak lanjut dan reaksi itu bisa
berupa tahap yang lebih lanjut, bisa berupa perbaikan dan kritik, tetapi
bisa berupa penolakan akan modernisme itu sendiri, atau bahkan reaksi
bangkitnya kembali premordialisme. Gambaran soal ini bisa dilihat dari
karya-karya para futurolog seperti Alvin Toffler dan John Naisbitt dengan
buku-buku serialnya tentang masalah ini. Reaksi yang lebih pesimis datang
dari Ravi Brata dalam bukunya ‘The Great Depression of 1990′ (1987).

Sekalipun istilah postmodern sudah lama di sebut-sebut, sekalipun bahasannya
bertumpang tindih dengan masalah postmodernism, ketiga penulis di atas tidak
menyinggungnya, kecuali dalam buku terakhir dari trilogi Alvin Toffler
‘Powershift’ disinggung soal ‘Post Modern Civilization’ yang olehnya
diidentikkan dengan ‘Third Wave Civilization.’ Third Wave Civilization
menurut Toffler dimulai pada pertengahan tahun 1950-an yang menggambarkan
terjadi perubahan kemanusiaaan yang ketiga kalinya yang disebut sebagai ‘the
start of the new, post-smokestack civilization.’

Toffler manggambarkan peradaban pasca-modern itu sebagai bercirikan
datangnya industri-industri baru yang didasarkan pada komputer, elektronik,
informasi, bioteknologi. Ini memungkinkan pabrikasi yang fleksibel, pasar
lokal, meluasnya pekerjaan paruh-waktu, dan de-masivisasi media, dan
mengambarkan fusi baru antara produser dan konsumer dan terbentuknya apa
yang disebut sebagai prosumer. Ini menggambarkan pergeseran pekerjaan ke
rumah dan perubahan-perubahan dalam bidang politik dan sistem pemerintahan.

Postmodernism menunjukkan sebuah gerakan yang menolak modernisme yang mandeg
dalam sebagal bidang, dan untuk memberikan gambaran sekitar pengertian ini,
berikut beberapa perumusan yang dikemukakan beberapa eksponen postmodernism
dalam bidang-bidang yang berbeda. Misalnya dalam seni dapat dilihat gambaran
berikut:

"hilangnya batas antara seni dan kehidupan sehari-hari, tumbangnya batas
antara budaya-tinggi dan budaya pop, percampuraadukkan gaya … dan
merayakan budaya ‘permukaan’ tanpa peduli pada ‘kedalaman’, hilangnya
orisinalitas dan kejeniusan, dan akhirnya, asumsi bahwa kini seni cuma bisa
mengulang-ulang masa lalu belaka."

Frederick Jameson menggunakan istilah postmodernism di wilayah kebudayaan
sebagai: "logika kultural yang membawa transformasi dalam suasana kebudayaan
umumnya. Ia mengaitkan tahapan-tahapan modernisme dengan kapitalisme
monopoli, sedang post modernisme dengan kapitalisme pasca Perang Dunia
Kedua. Diyakininya, bahwa postmodernism muncul berdasarkan dominasi
teknologi reproduksi dalam jaringan global kapitalisme multinasional kini."

Jean Baudrillard mengemukakan bahwa jika modernitas ditandai oleh eksplosi
komodifikasi, mekanisasi, teknologi, dan pasar, maka: "masyarakat postmodern
ditandai oleh implosi (ledakan ke dalam) alias peleburan segala batas,
wilayah dan pembedaan antara budaya tinggi dan budaya rendah, penampilan dan
kenyataan, dan segala oposisi biner lainnya yang selama ini dipelihara terus
oleh teori sosial maupun filsafat tradisional."

Dalam bidang filsafat, istilah postmodern diperkenalkan oleh Jean Francois
Lyotard yang merumuskan postmodernism sebagai: "periode dimana segala
sesuatu itu didelegitimasikan." Meskipun demikian, di lain pihak, definisi
ini tiba-tiba juga menjadi ambigu sebab pada bagian lain secara mengherankan
Lyotard mendefinisikan ‘postmodernism’ sebagai tahap ‘pramodern’.

DAMPAK MODERNISME

Gambaran dunia modern yang diciptakan oleh kemajuan rasionalisme, sains dan
teknologi beserta tatanan sosial yang dihasilkannya, ternyata telah
melahirkan berbagai konsekwensi buruk bagi kehidupan manusia dan alam pada
umumnya. Pada tahap praksis dapat disebutkan beberapa diantaranya
konsekwensi berikut:

1. Pandangan dualistik yang membagi seluruh kenyataan menjadi subyek dan
obyek, spiritual dan material, manusia dunia, dsb., telah mengakibatkan
obyektivisasi alam secara berlebihan dan pengurasan alam semena-mena. hal
ini kita tahu telah menyebabkan krisis ekologi;

2. Pandangan modern yang bersifat obyektivitas dan positivitas akhirnya
menjadikan manusia seolah obyek juga, dan masyarakatpun direkayasa sebagai
mesin. Akibat dari hal ini adalah bahwa masyarakat cenderung menjadi tidak
manusiawi;

3. Dalam modernisme ilmu-ilmu positif-empiris mau tak mau menjadi standar
kebenaran tertinggi. Akibat dari hal ini adalah, bahwa nilai-nilai moral dan
religius kehilangan wibawanya. Alhasil timbullah disorientasi moral
religius, yang pada gilirannya mengakibatkan pula meningkatnya kekerasan,
keterasingan, depresi mental, dst.:

4. Materialisme. Bila kenyataan terdasar tak lagi ditemukan dalam religi,
maka materilah yang mudah dianggap sebagai kenyataan terdasar. Materialisme
ontologis ini didampingi pula dengan materialisme praktis, yaitu bahwa hidup
pun menjadi keinginan yang tak habis-habisnya untuk memiliki dan mengontrol
hal-hal material. Dan aturan main utama tidak lain adalah survival of the
fittest, atau dalam skala lebih besar: persaingan dalam pasar bebas. Etika
persaingan dalam mengontrol sumber-sumber material inilah yang merupakan
pola perilaku dominan individu, bangsa dan perusahaan-perusahaan modern.;

5. Militerisme. Oleh sebab norma-norma religius dan moral tak lagi berdaya
bagi perilaku manusia, maka norma umum obyektif pun cenderung hilang juga.
Akibatnya, kekuasaan yang menekan dengan ancaman kekerasan adalah
satu-satunya cara untuk mengatur manusia. Ungkapan paling gamblang dari hal
ini adalah militerisme dengan persenjataan nuklirnya. Meskipun

Powered by Yahoo! Answers